Dian, Cantik Versi Indonesia

on Rabu, 24 Oktober 2007

Bisa dibilang, Dian Sastrowardoyo (25) sudah menjadi salah satu ikon
kecantikan dalam industri hiburan di Tanah Air sekarang ini. Tapi,
belakangan, gadis ini malah mengkritik kriteria cantik yang diproduksi mesin
citra yang membesarkan dirinya itu. Katanya, "Kecantikan itu hanya
konstruksi sosial belaka."

Kami ngobrol dengan Dian Paramita Sastrowardoyo- begitu nama lengkapnya-di
pinggir kolam renang di tengah rumah tantenya, Marina Sastrowardoyo- Puteri
Duta Remaja Indonesia 1975-di kawasan Bangka, Jakarta Selatan, Kamis (30/8)
lalu. Pakaian bersahaja yang dikenakan dan suasana senja yang hangat membuat
penampilan dara ini begitu santai, segar, dan nyata.

Itu berbeda dengan citranya sebagai selebriti yang gemerlap dan seolah tak
terjangkau, sebagaimana terpampang dalam iklan-iklan kecantikan di layar
televisi, majalah, atau baliho di jalan.

Dian seperti baru memperoleh pencerahan tentang hakikat kecantikan. Jika
ketemu lawan diskusi yang asyik, dia bakal antusias membongkar kompleksitas
industri kecantikan. Biar lebih meyakinkan, gadis itu tak segan membuka
laptop untuk membeberkan foto, data, bagan pemikiran, atau sejumlah teori
filsafat dan budaya yang berbau "akademis".

"Kecantikan itu konstruksi politis dari ideologi masyarakat yang plural dan
berubah-ubah. Siapa pun bisa mendefinisikan kecantikan sesuai dengan
kriterianya sendiri," katanya. Ini kritik serius terhadap anggapan umum,
bahwa kecantikan merupakan esensi dalam tubuh perempuan yang terbentuk
secara alamiah.

Dia fasih membicarakan kecantikan sebagai produk budaya. Ketika menukil
penggalan teori budaya dan filsafat-seperti pemikiran Immanuel Kant, Michel
Foucault
, Karl Marx, Julia Kristeva, atau Jean Baudrillard- yang kerap
diungkapkan dalam istilah Inggris-tampangnya sangat serius.

Maklum saja, tema ini jadi kajian skripsinya yang berjudul Kompleks Industri
Kecantikan: Sebuah Kritik Sosio Filosofis. Penelitian itu lolos sidang akhir
dengan penguji dua dosen Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Tommy F Awuy
dan Embun Kenyowati Ekosiwi, di Jurusan Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan
Budaya, pertengahan Juni lalu. Pembimbing skripsinya adalah Rocky Gerung.
Begitulah, setelah enam tahun kuliah, gadis itu kini jadi sarjana humaniora.

Dian menjelaskan, konsep kecantikan selalu berubah-ubah, seperti terlacak
dalam pergeseran budaya di Eropa-Amerika. Pada zaman kerajaan, cantik
identik dengan wanita berpinggul besar sebagai simbol kesuburan dan berkulit
pucat yang menggambarkan kelas atas yang tak pernah ditimpa terik matahari.
Citra tubuh montok bertahan hingga zaman Marilyn Monroe di Amerika. Tapi,
lewat penampilan model Twiggy yang kurus-seksi, konsep cantik kemudian lekat
dengan tubuh yang kerempeng dengan pinggang kecil.

Belakangan, kecantikan mengacu pada pemikiran kaum postfeminis, yang dengan
sadar mempermainkan citra cantik dan seksualitas demi memperkuat kekuasaan
perempuan. Di situ, perempuan jadi obyek sekaligus subyek, seperti Madonna
yang mempermainkan citra dirinya yang menggoda. "Beauty is still in the
making, kecantikan masih terus dalam proses menjadi," simpul Dian.

Dalam zaman kapitalisme terkini, citra cantik itu menjadi permainan rumit
dengan melibatkan kepentingan dari industri kecantikan, obat-obatan,
kesehatan, dan industri iklan. Masyarakat bisa jadi korban mode yang
dikembangkan produsen untuk keuntungan pasar.

Lantas, dalam situasi semacam itu, bagaimana dengan Dian sendiri yang
terlibat dalam proyek industri kecantikan? "Saya jadi korban, pelaku,
sekaligus saksi," katanya.

Korban
Dian merasa jadi korban industri kecantikan sejak mengawali debutnya sebagai
Gadis Sampul tahun 1996, lalu jadi model untuk banyak iklan. Saat itu, dia
merasa hanya sebagai obyek yang harus merawat tubuh demi memenuhi parameter
cantik yang ditentukan industri. Itu masih menghinggapinya sampai dia
terpilih jadi salah satu bintang iklan sabun Lux tahun 2002.

Dalam acara-acara show di beberapa kota, Dian merasa aneh ketika dijajarkan
di antara bintang-bintang lain yang punya campuran darah asing (indo),
seperti Tamara Bleszynki, Luna Maya, dan Mariana Renata. Para perempuan indo
itu telanjur sudah dicap cantik karena berkulit putih, hidung mancung, dan
bertubuh tinggi, sedangkan Dian berkulit sawo matang dan tingginya hanya
160-an cm.

"Saya sempat minder, merasa tidak cantik. Saya seperti orang yang salah
tempat. Posisi saya semestinya digantikan orang lain yang lebih tinggi dan
berkulit putih. Itu berlangsung sampai sekitar 1,5 tahun kemudian," katanya.

Baru empat tahun belakangan, Dian benar-benar menemukan kepercayaan diri:
ada kecantikan yang berbeda dari citra perempuan indo. "Bukankah saya sama
dengan kebanyakan perempuan Indonesia? Saya tak terlalu tinggi, tapi manis.
Kulit sawo matang, tapi bersih. Kalau mengenakan dandanan yang cocok, saya
juga menarik. Saya cantik!" katanya.

Bermodal kepercayaan pada kecantikan versi Indonesia itulah, Dian berusaha
jadi pelaku, subyek, dan bukan lagi korban. Perempuan lain diharapkan juga
menghargai kecantikan yang muncul dari keunikan pribadi masing-masing.
Kecantikan tak terpaku pada dimensi visual, tapi bisa terpancar dari
karakter, perilaku, atau pengetahuan.

"Akhirnya saya juga bisa bermain dengan kecantikan, play with your beauty.
Keterlibatan saya dalam industri kecantikan saya manfaatkan untuk jadi saksi
sekaligus detektif. Kalau ada kejahatan yang dilakukan industri terhadap
perempuan Indonesia, saya akan berbuat sesuatu," katanya bersemangat.

Punya sikap
Dian termasuk artis yang punya sikap dan kesadaran berpikir. Kritiknya pada
citra cantik yang diproduksi mesin industri hiburan yang membesarkan namanya
itu membuat dia menyempal dari arus umum artis sekarang yang manut-manut
saja dikendalikan pasar. Pilihan untuk kuliah filsafat cukup menjelaskan,
bagaimana gadis ini suka mengasah gagasan dan berpikir kritis. Di sela
kesibukan, dia masih meneruskan kebiasaan membaca novel atau buku pemikiran.

"Keluarga saya itu keluarga akademis yang suka seni dan sastra. Dulu, saya
mau jadi model biar dapat uang untuk biaya kuliah di luar negeri. Ternyata,
saya keterusan nyebur. Tapi, saya tetap menjalani ini dengan kesadaran
kritis," kata Dian, yang biasa menyebut sastrawan Subagio Sastrowardoyo
dengan panggilan "Eyang Bag".(Jimmy S Harianto)

0 komentar: